Sabtu, 22 November 2014

Logika Orang Kafir

Kisah Nabi Ibrahim A.S dan Raja Namruz   

           Orang kafir(dari kata kafara yang berarti menutup) bermakna orang yang menutup diri dari kebenaran dan kebaikan. Al-Qur'an menggambarkan orang kafir sebagai orang yang berpikir dengan logika keliru. Di antara kekeliruannya adalah mereka mendasarkan kebenarannya dari apa yang tampak saja serta tidak mengaitkan kesimpulannya dengan kesimpulan yang lain. Misalnya, mereka menganggap Nabi Isa sebagai anak Allah karena ia tidak berbapak, padahal ada yang memiliki kualitas keajaiban lebih dari Isa, yaitu Nabi Adam A.S yang tak beribu dan berbapak.
         
           Salah satu logika orang kafir dalam Q.S Al-Baqarah ayat 257-259 adalah klaim kaum Firaun bahwa dirinya Tuhan karena memiliki kuasa untuk menghidupkan dan mematikan. Logika yang dikemukakan Nabi Ibrahim ini disebut Al-Gazali sebagai al-ta'adul al-akbar (kesetimbangan yang lebih besar). Logika ini menyodorkan unsur-unsur kemahakuasaan Tuhan sebagai pengukur bagi kemungkinan kemutlakan segala sesuatu. Secara sederhana dapat dinyatakan bahwa Tuhan haruslah memiliki unsur kemutlakan Tuhan. Jika tidak, ia bukan Tuhan. Logika al-ta'addul al-akbar ini memberikan premis-premis yang lebih besar dari apa yang hendak dipertahankan sehingga keyakinan lawan dapat dinyatakan salah.

           Namruz dan orang-orang kafir mengklaim dirinya sebagai Tuhan karena memiliki kuasa atas hal-hal tertentu. Pada kisah itu, konon Namruz menghadirkan dua budaknya, yang satu dibunuh dan yang lain dibiarkan hidup sambil berkata,"Lihat saya dapat menghidupkan dan mematikan'' Kemudian Nabi Ibrahim meluaskan makna menghidupkan-mematikan bukan hanya soal hidup matinya manusia, melainkan pada menerbitkan dan menenggelamkan matahari. Saat itu klaim bahwa Namruz itu Tuhan menjadi tergugurkan, terutama karena kualitas kuasa yang dimilikinya tidak setara, apalagi melebihi kuasa Allah.

          Prinsip dasar logika ini adalah bahwa Allah lebih dari apa pun dan melebihi siapa pun. Prinsip ini dapat di temukan pada awal lafal takbir "Allahu akbar (Allah Maha Besar)". Berdasar prinsip ini, kalimat Allahu akbar dapat diterjemahkan menjadi "Allah lebih besar".

          Allah lebih besar kuasanya daripada anggapan orang-orang kafir. Allah lebih besar dari perkiraan siapa pun daripada pikiran dan isi bantahan yang dapat dilakukan orang kafir. Allah lebih besar daripada ketakutan yang menguasai diri kita; juga daripada segala kesedihan, keputusasaan, dan semua hal yang membuat kita lemah.

         Allah lebih besar dari apa pun. Namun orang-orang kafir, hati dan akalnya "tertutup"(kafir) sehingga menganggap selain Allah sebagai sesuatu yang luar biasa.Mereka ada yang menganggap pikirannya luar biasa, materi yang terhampar di sepanjang pengamatan indra juga dianggap sebagai hal-hal yang luar biasa. Padahal Allahlah yang lebih besar, namun orang-orang kafir tak dapat memahaminya.

TAFSIR 1.
Kelemahan Dalih (QS 2:257)

Dalam ayat ini, Allah SWT. mengisahkan perdebatan yang terjadi antara Nabi Ibrahim a.s dan Namruz. Dia bertanya kepada Nabi Ibrahim, "Siapakah Tuhan yang disembah oleh ibrahim?'' Nabi Ibrahim menjawab ,''Tuhanku adalah yang bisa membuat aku mati dan hidup".
         

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Bagus artikel nya